Feeds:
Posts
Comments

Archive for April, 2013

Malam ini saya menghadiri sebuah acara seminar tentang mengelola (mengantisipasi) stress yang dibawakan oleh ibu Frieda Mangunsong, guru besar yang menjadi dosen psikologi di Universitas Indonesia. Pada seminar ini saya bersyukur sekali karena menyadari banyak perubahan positif dalam diri saya. :D

Jadi begini saudara-saudara yang terkasih *peyuk satu2.. * :p

Saya terlahir di sebuah keluarga sebagai anak cewe yang dikasihi sekali oleh orang tua saya. Orang tua tentunya ingin agar anak cewe satu-satunya yang cantik ini *halahh* jadi anak yang bisa melakukan banyak hal yang saya suka, ataupun terlihat ada bakat sehingga disuruhnyalah saya ikut kegiatan dan les.

Les pertama yang saya ikuti adalah les renang (TK kecil sampe TK B kayaknya), dilanjutkan dengan les electone(kelas 3 SD), basket(kelas 3SD), badminton(kelas 3SD), tae kwon do (kelas 6 SD) dan sepertinya cukup sampai disitu.

Namun saudara, sayang sekali saya itu bosenan (bahasa jawa dari cepat bosen). Padahal guru les saya itu merasa saya bisa. Namun (sekali lagi) sangat disayangkan setiap kali les renang (jaman itu, ikut prestasi) disuruh lomba ogah (dingin cui), males cape latihan bolak balik bisa sampe 40x (lebih kayaknya) dan lain lain, akhirnya ga mau lagi ikut les renang. Demikian halnya dengan les electone. Ketika saya disuruh ikutan konser saya ga mau. Takutlah, malulah, dan intinya adalah m.a.l.e.s. latian , ga mau susah. Akhirnya saya berhenti les. Badminton juga begitu. T____T (sedih banget nggak sehh??). Untung basket masih diteruskan. Dan itupun kebanyakan grogi dan ga pede waktu main.

Jadi sampe disini, ada 4 hal yang menjadi sifat buruk saya:

  1. Cepat lari dari masalah.
  2. males latian.
  3. BosEnan. (Temennya deketnya Bos saya).
  4. Kurang PeDe ama diri sendiri.
  5. Tambah 1 lagi yaitu: cepat puas.
  6. Cukup, jangan nambah lagi.. sedih kalo terlalu banyak keburukan.

Dan akhirnya setelah SMA, barulah saya menyadari bahwa saya cupu dalam hal ini dan itu. Bisa sih bisa. Tapi cupu. Ga expert gitu *nunduk di pojokan*.  Tapi, terlambat sudah kau datang padaku..pam pam pam.. nasi sudah menjadi bubur dan Malin Kundang sudah menjadi batu. Saya tidak bisa kembali lagi ke SD dimana banyak kesempatan yang seharusnya bisa saya kembangkan disana. Sedihh ouooo sedih hatiku..  itu semua karena apa??? Karena sifat buruk pertama yaitu: saya mudah lari dari masalah.

Begitu ada satu hal yang sulit maka saya akan stop.

Kemudian *jangan bosen baca cerita saya*, waktu saya kuliah, mungkin saya sudah lebih memikirkan masa depan dan uang orangtua yang dengan kerja kerasnya membiayai saya, sehingga saya punya 3 target yaitu:

  1. IP boleh turun dari semester sebelumnya, tetapi IPK harus naik.
  2. Lulus 4 tahun.
  3. Punya suatu prestasi di kuliah.

Saya menghadapi semester 1-7 dengan lancar. Puji Tuhan terget 1 done.. TETAaaaPiiii.. *dramatis sound* semester 8 saya dihadang oleh sebuah tembok yang tingginya mungkin 2 meter 1 jengkal diatas tinggi badan saya. How come, saudara?

Kalian pasti pernah mendengar hantu kuliah dengan nama skripsi! BENAR! skripsilah yang menjadi momok saya waktu itu. Kenapa semester 1-7 lancar? Karena mau tak mau 1 mata kuliah pasti berakhir 1 semester. Sehingga akan selesai dengan lancar.. XD

Namun tidak demikian halnya dengan hantu skripsi..  hantu skripsi akan menghantui kita sampai kapanpun. Sampai dosen mengapprove bab 1-5 dan berhadapan “one to four”(Dosennya 4, kitanya 1) dengan hantu itu (jangan lupa pake baju putih dan rok hitam) kemudian mendapat surat LULUS,barulah kita dinyatakan sebagai Pembasmi Siluman.

[lihat target2!] Waktu itu tekanan menghadang ketika target lulus 4 tahun sudah di depan mata.. TIDAKKK Saya harus lulus 4 tahun. Tetapi saat itu saya bahkan tidak tahu bagaimana saya melakukan penelitian, apa yang harus saya teliti dari skripsi ini. Namun berhubung saya punya target nomor 2 itulah, dengan sebuah ketidak pastian, saya tetap mencari dan konsul dengan dosen saya.  Akhirnya waktu tinggal 2 minggu sampai batas pengumpulan skripsi dan saya masih di bab 3.

Melihat hal ini, saya merasa tidak mungkin menyelesaikan bab 4 dalam waktu 2 minggu. Akhirnya seperti biasa, saya stop lagi. Nanti saja semester berikutnya. Target lulus 4 tahun (wisuda juli) diganti dengan Ikut wisuda Oktober. *target 2: FAILED*

Kemudian libur tlah tiba. Hore hore hore… skripsi menjamur karena dicuekin, dan berubah menjadi panu kadas kurap. Tetapi saya tetap ceria dengan liburan saya. #Lalalala.. Dan akhirnya agustus tanggal 13 munculah pengumuman bahwa yang mau wisuda oktober harus mengumpulkan berkas paling lambat tanggal 30 Agustus. JEGERRR.. Dengan menelan ludah saya menghitung hari. Artinya tinggal 2minggu lagi. Kondisi yang sama seperti bulan Juli. Namun kali ini mau ga mau saya harus berusaha. Katakan tidak pada menyerah!

— tanggal 16s/d 29 Agustus : Jangan berisik saya sedang usaha —

— 2 minggu kemudian —

TARAAAaaa… *cringg*  Akhirnya bab 4 dan 5 serta pertanyaan2 yang selama ini belum terjawab akhirnya terjawab sudah. J Mungkin seandainya saya tidak menyerah waktu itu, saya bisa memenuhi target kedua dengan baik.

Dari sinilah saya belajar lebih lagi mengenai berusaha dan tidak lari dari masalah. Jujur saja, ketekunan menjadi sesuatu yang sulit bagi saya. Termasuk ketika saya lulus dan bekerja di Jakarta. Di tengah stress yang saya alami, saya kembali menemui titik ingin lari, waktu itu. Saya sudah memberontak dan ga mau berada di zona tidak nyaman saya. Saya kepingin untuk stop lalu menikmati hal yang menyenangkan saja. Tapi Puji Tuhan, Dia tau bagaimana cara mengajari saya. Dengan segala kondisi yang ada, saya ‘diikat’ sehingga tidak dapat lari lagi.

Perjalanan pekerjaanpun saya lalui, kesulitan datang dan pergi, tidak ada ide, lelah kerja malam, macet, polusi jakarta dan lain-lain. Tetapi hal ini membentuk saya dan justru itu menyadarkan saya. Seolah-olah ini yang dia katakan :

“Hei, Na! Kamu masih hidup saat ini dan  bisa melewati semua yang sulit! Ingat waktu dulu kau mengalahkan hantu skripsi! Kamu bisa kan? Sekarang kau lebih hebat pastinya. Hal yang dahulu sulit sekarang jadi mudah.” (Nana, 2013)

Memang kesulitan itu ada. Kau gak sendiri kok. Semua orang punya kesulitan, hanya berbeda saja jenisnya. Kau tidak akan menjadi hebat jika tidak pernah menjalani ujian. Bagaimana kita melewati tekanan itu tergantung dari bagaimana kita menghadapinya bukan?

Teman yang duduknya dekat saya di kantor pasti tahu saya suka nyanyi2, humming ga jelas (bahkan bos pernah bilang: “nanti ta rekam lo.” T_T), doyan liat HP, chatting, googling,  liat berita, makan, denger musik :p sepertinya itu tabu ya dikerjaan? Tapi gimana ya? Selama ini, diantara sela-sela pencarian hiburan, bakal muncul ide untuk menyelesaikan kebuntuan saya. :p

Intinya: ketika menemui kesulitan JANGAN DIAM atau LARI!

Solusi bakal ada! Tergantung bagaimana kita. Mau lari, diam? atau berserah, mencari jalan keluar lalu naik level? Jangan lari! Jangan takut, ada Tuhan beserta. :)

Satu lagu dari saya

*banyangkan saya nyanyi lagu ini untuk anda dan jika berkenan tolong sawernya diisi..XD

Kau slalu punya cara untuk menjagaku snantiasa ada di dalam rencana Mu Tuhan.

Kau slalu punya cara untuk mengubah keburukan agar menjadi hal baik bagiku.

Bila gunung dihadapanku tak juga berpindah, Kau berikanku kekuatan tuk mendakinya.

Kulakukan yang terbaikku, Kau yang selebihnya.

Tuhan selalu punya cara membuatku menang pada akhirnya. :)

Read Full Post »

Di hari minggu yang cerah namun panas ini, saya mencoba mencari aktivitas selayaknya manusia kost yang sedang libur, dan saya memutuskan akan mengisi waktu ini dengan kembali mencoreti blog saya yang sudah lama dipenuhi oleh sarang laba2.

Selama 2-3 bulan ini, kegiatan saya semakin bertambah dan Puji Tuhan kegiatan itu saya isi dengan hal positip, bukan bertambah lama tidur maupun bertambah lama di depan TV sambil nonton Esmeralda, Fernando, atau Nikita Willy.

Dari beberapa kegiatan positip itu, saya kembali mendapatkan bebeberapa pelajaran baru mengenai pelayanan. dan disini saya mau share mengenai apa yang saya dapatkan.

Sebelumnya, mari kita lihat perbedaan antara pekerjaan dan pelayanan (saya ambil dari  beberapa artikel)

Pekerjaan Pelayanan
Tujuannya : nafkah, diri sendiri Tujuannya : kemuliaan Tuhan
Keluar karena ada yang mengkritik Terus bekerja meski dikritik habis2an
Berhenti karena ga ada yang berterimakasih Tetap bekerja walau tidak dikenal
Dilakukan selama ada waktu luang Dilakukan meskipun mengganggu aktivitas

Saya memulai pelayanan sejak SMP di komisi remaja GKI Pajajaran. Namun seringkali saya salah dalam melayani. Saya sering jenuh, mengeluh, ga serius, melakukan untuk diri sendiri, atau melakukannya pada waktu saya seneng aja dan jika itu memang hal yang menyenangkan bagi saya.

Untungnya, beberapa orang terus dipakai Tuhan untuk menjadi teladan dalam melayani dan hal ini menohok saya (menohok itu semacam menusuk dengan benda tumpul).

Dan akhirnya,  beranjak dewasa mulailah saya berfikir, kenapa mereka bisa benar2 setia dan kenapa saya sering salah dalam melayani? Jika dipikir2 adalah karena saya sendiri BELUM BENAR-BENAR MENGERTI mengapa saya melayani dan kenapa saya HARUS melayani.

Dan Tuhan terus mengajari saya tentang hal ini. Mulai dari Camp Pemuda 2008 (“ngapain loe hidup?”) disana saya diingatkan bahwa tujuan umum hidup kita adalah menyenangkan hati Tuhan . baca cerita saya di sini

Dari camp ini saya mulai berusaha untuk mengingat tujuan awal saya hidup dan berusaha terus buat menjalankannya.  Lalu, apa hubungannya menyenangkan hati Tuhan dengan melayani? Apakah harus melayani untuk menyenangkan hati Tuhan? Jawabannya adalah YA!

Jika kita melihat perbedaan pekerjaan dan pelayanan, maka sungguh jelas bahwa tujuan dari bekerja adalah menyenangkan diri sendiri sedangkan tujuan dari pelayanan adalah menyenangkan hati Tuhan. Apakah tidak boleh menyenangkan diri sendiri? Tentu boleh! Tetapi perlu diingat bahwa itu bukan tujuan utamanya. Bahkan ketika saya melayani bersama teman-teman, hidup saya menjadi lebih bermakna dan hal2 menyenangkan terus saya peroleh.

Namun, mengapa kadang kita tidak mau melayani? Beberapa alasan yang sering saya dengar adalah:  “Saya merasa gak layak untuk melayani.”, “Saya tidak mampu melayani”, “Wah, saya ada acara, sibuk.” dan alasan-alasan lainnya.  Padahal jika mau jujur, seringkali hal itu sebagai tameng bagi diri kita untuk tidak mau melayani dan terus mencari kesenangan bagi diri kita sendiri. Main games, tidur di rumah, dan sibuk dengan urusan kita sendiri.

Seorang pendeta pernah berkata: coba kalo kita minta Tuhan sesuatu trus Tuhan jawab: “nanti ya, lagi ga mood nih”, atau “ah, kenapa Saya harus melakukannya?”

Bagaimana jika Tuhan menjawab begitu? Tapi Tuhan tuh sungguh baik, Dia sediakan segala yang terbaik buat kita pada waktuNya. Bahkan hidupnya diberi buat kita, untuk menyelamatkan kita. Oleh sebab itu jelaslah bahwa kodrat manusia adalah sebagai HAMBA bagi Tuhan, Pencipta kita.

Kita semua sama di mata Tuhan. Baik kita yang kaya, atau miskin, punya jabatan atau sebagai bawahan, tua atau muda, siapa sih kita? Kita semua sama. Kita adalah HAMBA yang harus melayani.

Memang melayani tidak hanya di Gereja. Kita bisa melayani dalam pekerjaan sebagai karyawan yang peduli dengan orang lain, sebagai bos yang mengasihi bawahannya, sebagai anak yang sayang dengan keluarganya, sebagai warga yang melayani kaum marginal,dll. Bagaimanapun bentuknya,itu semua kembali lagi ke dalam bagaimana motivasi kita dalam melayani.

Namun, bagi saya Gereja tidak pernah lepas dari aspek penting yang mendukung saya untuk terus belajar melayani. Oleh sebab itu, sebagai orang Kristen alangkah indahnya jika kita semua mau belajar dan melayani sebagai pelayan di Rumah Tuhan alias di gereja. Gereja membutuhkan orang yang mau melayani. Baik sebagai pelayan dalam ibadah, pelayan ke orang-orang tua, anak kecil (Sekolah Minggu), remaja atau pelayanan keluar.

Waktu remaja, seorang Kakak Pemuda pernah bilang pada saya: “Kalo kamu gak mau, Tuhan bisa pake batu-batu untuk melayani Dia. Tapi Tuhan pilih kamu loh”.  Sampe saat ini,  perkataan itu masih terngiang dan saya baru menyadari di tahun 2013 ini. Banyak orang di gereja yang bisa dibilang 4L ( Lo Lagi, Lo Lagi). Ketika saya pikirkan lebih dalam, hal ini sebenarnya tidak menjadi ejekan. Namun merekalah yang memang mau dipakai Tuhan, merekalah “batu-batu” yang mau dipakai Tuhan, dengan kesetiaan yang mereka miliki. Lalu jika melihat hal ini, apakah kita diam saja, atau mau dipakai menjadi pelayan Tuhan?

Melayani tidak selalu menyenangkan, dibilang munafik, sok suci, sok rohani, dan lain-lain, tentunya sering didengar, tetapi biarlah itu tidak menjadi beban ketika memang pelayanan yang kita lakukan itu murni sebuah pelayanan. Jika kita sungguh-sungguh melayani maka yang terbaik akan kita berikan. Juga tidak menjadi batu sandungan bagi pekerjaan ataupun orang lain diluar sana.

Melayani itu tidak mudah.

Jadi, mari kita belajar terus dalam melayani karena kita semua adalah HAMBA yang HARUS melayani.

Read Full Post »